- Home>
- BidangInfokom , DepartemenLuarNegeri , EksploratifSinergisAspiratif , HIMASAKI2024 , KabinetValensi , SatuBersamaSelamanya , SeptemberHitam >
- Masa Kelam Bulan September
Apa kabar markisa? Tidak terasa bulan september sudah berakhir. Markisa masih ingat bulan september kita sempat memakai pakaian hitam-hitam? Pakaian ini menyiratkan untuk mengenang dan tidak lupa terhadap rentetan peristiwa kelam yang terjadi pada bulan september. Apalagi dari DEMA-FST menyuarakan dalam “Saintek Hitam” untuk menyampaikan aspirasinya. Peristiwa apa saja yang terjadi pada bulan september ini? Yuk kita bahas.
1.
Tragedi
65
Masa
kelam dalam sejarah Indonesia yang dikenal dengan sebutan “Tragedi 65” masih
menjadi kenangan yang menyakitkan dan kontroversial dalam sejarah negeri ini.
Pada tanggal 30 September 1965, dimulailah suatu peristiwa yang mengubah
jalannya sejarah Indonesia. Gerakan
30 September (G30S), sekelompok perwira militer yang berupaya menggulingkan
pemerintahan Presiden Soekarno,
diawali dengan penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI. Peristiwa ini
menimbulkan kekacauan pada struktur militer dan politik Indonesia saat
itu.Setelah kudeta yang gagal ini, pembunuhan terhadap anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI) dan pendukungnya terjadi di banyak wilayah di Indonesia.
Pembantaian yang terjadi dalam skala dan skala yang tak terbayangkan ini telah
memakan korban ribuan hingga jutaan orang, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Masih banyak pertanyaan
dan kontroversi seputar kasus ini. Identitas sebenarnya dan motivasi terjadinya
G30S masih belum jelas, dan banyak yang meyakini keterlibatan pihak asing.
Selain itu, dampak dan implikasi politik dari peristiwa ini masih terasa hingga
saat ini. Kenangan akan “Pembantaian 65 tahun” merupakan pengingat yang
menyakitkan akan perpecahan dan kekerasan yang melanda Indonesia. Bahkan
setelah lebih dari setengah abad, peristiwa tersebut tetap menjadi salah satu
periode tersulit dalam sejarah negara ini.
2.
Peristiwa
Tanjung Priok
Peristiwa
Tanjung Priok terjadi pada tanggal 13 September 1984, ketika aparat keamanan
membubarkan pertemuan yang dihadiri sekelompok umat Islam yang mengenakan
ibadah Jumat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Krisis ini berujung
pada kerusuhan dan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Banyak saksi
menggambarkan saat-saat kebingungan dan ketakutan, dan beberapa laporan
menggambarkan pemukulan dan penangkapan. Kejadian ini mengakibatkan banyak
korban jiwa dan luka-luka dalam pertemuan tersebut. Krisis Tanjung Priok
telah menarik perhatian nasional dan internasional sehingga menimbulkan banyak
keributan dan pertanyaan terhadap kebijakan pemerintah dan tindakan aparat
keamanan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa pelanggaran HAM dan kekerasan
semacam ini tidak boleh terjadi di negara demokratis seperti Indonesia. Meski sudah lebih dari
empat puluh tahun berlalu sejak kejadian ini, kenangan akan kejadian Tanjung
Priok masih membekas. Dalam September kemarin, memikirkan peristiwa-peristiwa
ini untuk mengingatkan kita bahwa kita harus bekerjasama untuk menjamin
keadilan, hak asasi manusia dan perdamaian. Biarkan masa lalu menjadi pelajaran
yang berguna untuk masa depan yang lebih baik.
3.
Tragedi
Semanggi II
Tragedi
ini menjadi peristiwa besar dalam perjalanan Indonesia menuju perubahan politik
dan sosial. Pada tanggal 9 September 1999, ribuan orang berkumpul di sekitar
Jembatan Semanggi, Jakarta, dalam demonstrasi damai yang berubah menjadi
tragedi yang tak terlupakan. Awalnya,
protes tersebut bermula dari protes mahasiswa dan aktivis yang menuntut lebih
banyak perubahan kebijakan dan perbaikan di pemerintahan. Mereka mengutuk
korupsi, pelanggaran hak asasi manusia dan tindakan pasukan keamanan. Namun,
ketegangan meningkat ketika aparat keamanan panik dan berusaha membubarkan
protes. Bentrokan sengit terjadi antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan di
sekitar Jembatan Samanggi. Hal ini mengakibatkan banyak kematian dan luka
serius di antara peserta protes. Tragedi ini menjadi pengingat menyakitkan
tentang risiko yang dihadapi oleh mereka yang memperjuangkan perubahan dalam
sistem politik dan pemerintahan yang ada. Meskipun telah ada tanda-tanda
perbaikan dalam tata kelola pemerintahan dan perubahan sosial sejak saat itu,
Tragedi Semanggi II tetap menjadi pengingat tentang pentingnya dialog dan
negosiasi dalam menanggapi aspirasi rakyat. Dalam September kemarin, merenungkan peristiwa
ini sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang melahirkan semangat untuk
melanjutkan perjuangan demi perubahan yang lebih baik dan mendorong
pemerintahan yang transparan, adil, dan jujur. Tragedi Semanggi II menunjukkan
kepada kita bahwa perubahan yang damai adalah sesuatu yang dihargai dan perlu
diperjuangkan, dan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan
bahwa tuntutan rakyat didengar dan dihormati. Semangat reformasi terus
berkobar, mendorong kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah bagi
Indonesia.
4.
Pembunuhan
Munir
19
tahun lalu, Indonesia kehilangan salah satu tokoh HAM paling terkenal, Munir
Saeed Thalib. Pembunuhan Munir pada 7 September 2004 akan tetap menjadi
kenangan kelam dalam sejarah Indonesia dan dunia internasional. Munir, pendiri dan ketua
eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, dikenal karena perjuangannya
melawan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Ia merupakan tokoh yang
berani dalam mengungkap kejahatan pemerintah dan pelanggaran hak asasi manusia
di tingkat tertinggi pemerintahan. Kecelakaan
itu terjadi saat Munir dalam perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam di
Belanda dengan penerbangan Garuda Indonesia. Dia meninggal karena keracunan
arsenik dalam penerbangan ini. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya zat arsenik
yang disuntikkan ke dalam minumannya di dalam pesawat. Meski pelaku pembunuhan
ini akhirnya divonis bersalah, banyak yang percaya bahwa pelaku di balik
tindakan ini punya peran. Pembunuhan Munir menarik perhatian internasional dan
menyoroti pentingnya mendukung aktivis hak asasi manusia yang berani
menyuarakan keadilan. Penyebab
terbunuhnya Munir menjadi pengingat bahwa perjuangan keadilan dan kemanusiaan
harus terus berlanjut, dan kebenaran harus selalu terungkap apapun hambatannya.
5.
Protes
reformasi telah usai
Pada
tahun 2019, mahasiswa Indonesia bangkit dalam demonstrasi yang disebut
"Reformasi yang Rusak". Demonstrasi ini bukan sekadar protes. Inilah
kisah mahasiswa Indonesia yang berani bicara tentang perubahan sistem politik
dan pemerintahan. Protes
dimulai pada September 2019, ketika mahasiswa dari berbagai universitas di
seluruh Indonesia turun ke jalan untuk mengungkapkan kekesalannya terhadap
kebijakan pemerintah yang disebut-sebut mematikan kepentingan masyarakat untuk
tujuan politik dan komersial. Protes ini juga mengecam korupsi yang merajalela
di tingkat pemerintahan. Puncak protes terjadi pada 30 September 2019, ketika
ribuan mahasiswa berkumpul di berbagai kota di Indonesia, antara lain Jakarta,
Surabaya, dan Bandung. Mereka mengadvokasi amandemen beberapa undang-undang
yang dianggap bermasalah saat itu (RUU RKUHP, RUU Pertambangan dan Batubara,
RUU Pertanahan, RUU Perubahan, RUU Rekrutmen, RUU SDA) dan pencabutan UU Komisi
Pemberantasan Korupsi, reformasi manajemen dan humaniora. Pelanggaran dan
transparansi pada organisasi pemerintah Indonesia dan pencegahan kerusakan
lingkungan. Aksi protes ini berlangsung damai sebelum terjadi
bentrok dengan aparat keamanan sehingga menimbulkan kekerasan yang terjadi di banyak tempat.
Meski penuh kekerasan, aksi
ini merupakan pengingat akan pentingnya mahasiswa dalam mengubah tatanan negara
ini.
Peristiwa
September Hitam menjadi
pengingat akan tantangan yang telah dan terus dihadapi masyarakat Indonesia.
Dengan mencermati sejarah ini, diharapkan dapat memahami bagaimana masa lalu berdampak pada
Indonesia saat ini, dan menjadi pelajaran untuk tidak mengulangi apa yang
terjadi.
Referensi
Putri, D. (n.d.).
September Hitam: Rentetan Sejarah Kelam Pelanggaran HAM di Indonesia. Diambil
dari https://www.detik.com/jabar/berita/d-6912982/september-hitam-rentetan-sejarah-kelam-pelanggaran-ham-di-indonesia
- NODA KIMIA SEBAGAI TEREALISASINYA PERINGATAN DONOR DARAH SEDUNIA
- Chemistry Leadership Training (CLT) 2023
- OKSI (Orientasi Kemahasiswaan Sains Kimia) 2023
- CHEMISTRY GRADUATE GATHERING: SEBUAH UPAYA PELEPASAN WISUDAWAN JURUSAN KIMIA
- Berita Acara Chemistry For All 2024
- PENGUMUMAN PANITIA KIMIA BERKUNJUNG 2024
- PENGUMUMAN PANITIA CFA 2024
- BERITA ACARA KEGIATAN CHEMISTRY FESTIVAL 2024 (CHEMFEST)
- BERITA ACARA ORIENTASI KEMAHASISWAAN SAINS KIMIA (OKSI) 2024
- Scientific Exploration: Ada Apa dengan Unsur Ag?
- SCIENTIFIC EXPLORATION: Peristiwa Oksidasi pada Patung Liberty
- [PENGUMUMAN PANITIA CLT 2023]
- PENGUMUMAN PANITIA OKSI 2023
- 𝐇𝐀𝐑𝐈 𝐑𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐃𝐔𝐋 𝐀𝐃𝐇𝐀 𝟏𝟒𝟒𝟒 𝐇 / 𝟐𝟎𝟐𝟑 𝐌
- PENGUMUMAN PANITIA KUNJUNGAN INDUSTRI 2023
- Masa Kelam Bulan September

Post a Comment