• Tuesday, October 01, 2024


    Apa kabar markisa? Tidak terasa bulan september sudah berakhir. Markisa masih ingat bulan september kita sempat memakai pakaian hitam-hitam? Pakaian ini menyiratkan untuk mengenang dan tidak lupa terhadap rentetan peristiwa kelam yang terjadi pada bulan september. Apalagi dari DEMA-FST menyuarakan dalam “Saintek Hitam” untuk menyampaikan aspirasinya. Peristiwa apa saja yang terjadi pada bulan september ini? Yuk kita bahas.

    1.      Tragedi 65

    Masa kelam dalam sejarah Indonesia yang dikenal dengan sebutan “Tragedi 65” masih menjadi kenangan yang menyakitkan dan kontroversial dalam sejarah negeri ini. Pada tanggal 30 September 1965, dimulailah suatu peristiwa yang mengubah jalannya sejarah Indonesia. Gerakan 30 September (G30S), sekelompok perwira militer yang berupaya menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno, diawali dengan penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI. Peristiwa ini menimbulkan kekacauan pada struktur militer dan politik Indonesia saat itu.Setelah kudeta yang gagal ini, pembunuhan terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pendukungnya terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Pembantaian yang terjadi dalam skala dan skala yang tak terbayangkan ini telah memakan korban ribuan hingga jutaan orang, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Masih banyak pertanyaan dan kontroversi seputar kasus ini. Identitas sebenarnya dan motivasi terjadinya G30S masih belum jelas, dan banyak yang meyakini keterlibatan pihak asing. Selain itu, dampak dan implikasi politik dari peristiwa ini masih terasa hingga saat ini. Kenangan akan “Pembantaian 65 tahun” merupakan pengingat yang menyakitkan akan perpecahan dan kekerasan yang melanda Indonesia. Bahkan setelah lebih dari setengah abad, peristiwa tersebut tetap menjadi salah satu periode tersulit dalam sejarah negara ini.

    2.      Peristiwa Tanjung Priok

    Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada tanggal 13 September 1984, ketika aparat keamanan membubarkan pertemuan yang dihadiri sekelompok umat Islam yang mengenakan ibadah Jumat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Krisis ini berujung pada kerusuhan dan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Banyak saksi menggambarkan saat-saat kebingungan dan ketakutan, dan beberapa laporan menggambarkan pemukulan dan penangkapan. Kejadian ini mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka-luka dalam pertemuan tersebut. Krisis Tanjung Priok telah menarik perhatian nasional dan internasional sehingga menimbulkan banyak keributan dan pertanyaan terhadap kebijakan pemerintah dan tindakan aparat keamanan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa pelanggaran HAM dan kekerasan semacam ini tidak boleh terjadi di negara demokratis seperti Indonesia. Meski sudah lebih dari empat puluh tahun berlalu sejak kejadian ini, kenangan akan kejadian Tanjung Priok masih membekas. Dalam September kemarin, memikirkan peristiwa-peristiwa ini untuk mengingatkan kita bahwa kita harus bekerjasama untuk menjamin keadilan, hak asasi manusia dan perdamaian. Biarkan masa lalu menjadi pelajaran yang berguna untuk masa depan yang lebih baik.

    3.      Tragedi Semanggi II

    Tragedi ini menjadi peristiwa besar dalam perjalanan Indonesia menuju perubahan politik dan sosial. Pada tanggal 9 September 1999, ribuan orang berkumpul di sekitar Jembatan Semanggi, Jakarta, dalam demonstrasi damai yang berubah menjadi tragedi yang tak terlupakan. Awalnya, protes tersebut bermula dari protes mahasiswa dan aktivis yang menuntut lebih banyak perubahan kebijakan dan perbaikan di pemerintahan. Mereka mengutuk korupsi, pelanggaran hak asasi manusia dan tindakan pasukan keamanan. Namun, ketegangan meningkat ketika aparat keamanan panik dan berusaha membubarkan protes. Bentrokan sengit terjadi antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan di sekitar Jembatan Samanggi. Hal ini mengakibatkan banyak kematian dan luka serius di antara peserta protes. Tragedi ini menjadi pengingat menyakitkan tentang risiko yang dihadapi oleh mereka yang memperjuangkan perubahan dalam sistem politik dan pemerintahan yang ada. Meskipun telah ada tanda-tanda perbaikan dalam tata kelola pemerintahan dan perubahan sosial sejak saat itu, Tragedi Semanggi II tetap menjadi pengingat tentang pentingnya dialog dan negosiasi dalam menanggapi aspirasi rakyat. Dalam September kemarin, merenungkan peristiwa ini sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang melahirkan semangat untuk melanjutkan perjuangan demi perubahan yang lebih baik dan mendorong pemerintahan yang transparan, adil, dan jujur. Tragedi Semanggi II menunjukkan kepada kita bahwa perubahan yang damai adalah sesuatu yang dihargai dan perlu diperjuangkan, dan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tuntutan rakyat didengar dan dihormati. Semangat reformasi terus berkobar, mendorong kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah bagi Indonesia.

    4.      Pembunuhan Munir

    19 tahun lalu, Indonesia kehilangan salah satu tokoh HAM paling terkenal, Munir Saeed Thalib. Pembunuhan Munir pada 7 September 2004 akan tetap menjadi kenangan kelam dalam sejarah Indonesia dan dunia internasional. Munir, pendiri dan ketua eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, dikenal karena perjuangannya melawan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Ia merupakan tokoh yang berani dalam mengungkap kejahatan pemerintah dan pelanggaran hak asasi manusia di tingkat tertinggi pemerintahan. Kecelakaan itu terjadi saat Munir dalam perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam di Belanda dengan penerbangan Garuda Indonesia. Dia meninggal karena keracunan arsenik dalam penerbangan ini. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya zat arsenik yang disuntikkan ke dalam minumannya di dalam pesawat. Meski pelaku pembunuhan ini akhirnya divonis bersalah, banyak yang percaya bahwa pelaku di balik tindakan ini punya peran. Pembunuhan Munir menarik perhatian internasional dan menyoroti pentingnya mendukung aktivis hak asasi manusia yang berani menyuarakan keadilan. Penyebab terbunuhnya Munir menjadi pengingat bahwa perjuangan keadilan dan kemanusiaan harus terus berlanjut, dan kebenaran harus selalu terungkap apapun hambatannya.

    5.      Protes reformasi telah usai

    Pada tahun 2019, mahasiswa Indonesia bangkit dalam demonstrasi yang disebut "Reformasi yang Rusak". Demonstrasi ini bukan sekadar protes. Inilah kisah mahasiswa Indonesia yang berani bicara tentang perubahan sistem politik dan pemerintahan. Protes dimulai pada September 2019, ketika mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia turun ke jalan untuk mengungkapkan kekesalannya terhadap kebijakan pemerintah yang disebut-sebut mematikan kepentingan masyarakat untuk tujuan politik dan komersial. Protes ini juga mengecam korupsi yang merajalela di tingkat pemerintahan. Puncak protes terjadi pada 30 September 2019, ketika ribuan mahasiswa berkumpul di berbagai kota di Indonesia, antara lain Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Mereka mengadvokasi amandemen beberapa undang-undang yang dianggap bermasalah saat itu (RUU RKUHP, RUU Pertambangan dan Batubara, RUU Pertanahan, RUU Perubahan, RUU Rekrutmen, RUU SDA) dan pencabutan UU Komisi Pemberantasan Korupsi, reformasi manajemen dan humaniora. Pelanggaran dan transparansi pada organisasi pemerintah Indonesia dan pencegahan kerusakan lingkungan. Aksi protes ini berlangsung damai sebelum terjadi bentrok dengan aparat keamanan sehingga menimbulkan kekerasan yang terjadi di banyak tempat. Meski penuh kekerasan, aksi ini merupakan pengingat akan pentingnya mahasiswa dalam mengubah tatanan negara ini.

    Peristiwa September Hitam menjadi pengingat akan tantangan yang telah dan terus dihadapi masyarakat Indonesia. Dengan mencermati sejarah ini, diharapkan dapat memahami bagaimana masa lalu berdampak pada Indonesia saat ini, dan menjadi pelajaran untuk tidak mengulangi apa yang terjadi.

     

    Referensi

    Putri, D. (n.d.). September Hitam: Rentetan Sejarah Kelam Pelanggaran HAM di Indonesia. Diambil dari https://www.detik.com/jabar/berita/d-6912982/september-hitam-rentetan-sejarah-kelam-pelanggaran-ham-di-indonesia

  • Copyright © 2025 - HIMASAKI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
    Design by INFOKOM 2023